Perkembangan teknologi dan globalisasi membawa banyak kemajuan, tetapi juga tantangan besar, terutama dalam aspek moral dan spiritual generasi muda. Fenomena seperti perilaku hedonis, menurunnya etika pergaulan, serta lemahnya kesadaran religius menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan saat ini.
Sebagai kampus Islam yang berkomitmen mencetak generasi berilmu dan berakhlak, STITS Syekh Saman Al Hasan menempatkan pendidikan Islam sebagai benteng utama dalam membentuk karakter dan moral mahasiswa agar siap menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri keislaman.
1. Krisis Moral di Era Modern
Generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan yang serba cepat dan terbuka. Arus informasi yang tidak terbendung melalui media sosial, hiburan, dan budaya populer sering kali menggoyahkan nilai moral dan spiritual.
Beberapa bentuk krisis moral yang sering muncul antara lain:
- Menurunnya rasa hormat terhadap orang tua dan guru.
- Terjadinya penyimpangan dalam pergaulan.
- Rendahnya kepedulian sosial dan empati.
- Meningkatnya perilaku konsumtif dan individualistis.
Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menggerus nilai-nilai luhur bangsa dan melemahkan identitas Islam yang seharusnya menjadi pedoman hidup.
2. Peran Pendidikan Islam Sebagai Solusi
Pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membangun moral generasi muda. Tujuan utamanya bukan hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menyucikan jiwa dan membentuk akhlak mulia.
Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams [91]: 9-10)
Ayat ini menegaskan bahwa keberhasilan sejati terletak pada kebersihan hati dan perilaku, bukan semata pada pencapaian materi.
Di kampus Islam seperti STITS Syekh Saman Al Hasan, pendidikan dirancang untuk menyeimbangkan antara ilmu pengetahuan modern dan nilai-nilai spiritual agar mahasiswa tumbuh menjadi insan yang berilmu sekaligus berakhlak.
3. Menanamkan Nilai Akhlakul Karimah Sejak Dini
Kunci utama dalam menghadapi tantangan moral adalah pembentukan karakter melalui akhlak. Mahasiswa diajak untuk meneladani akhlak Rasulullah ﷺ yang dikenal sebagai “uswah hasanah” (teladan terbaik).
Beberapa nilai yang selalu ditekankan dalam pembelajaran di kampus Islam meliputi:
- Kejujuran dalam menuntut ilmu dan bersikap.
- Tanggung jawab terhadap amanah dan tugas.
- Kesederhanaan dalam gaya hidup.
- Kepedulian sosial terhadap sesama.
- Kedisiplinan dan adab dalam berinteraksi dengan dosen dan teman.
Nilai-nilai ini bukan hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan kampus sehari-hari.
4. Peran Dosen dan Lingkungan Kampus
Dosen di STITS Syekh Saman Al Hasan tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik ruhani (murobbi) yang membimbing mahasiswa secara intelektual dan spiritual.
Melalui pendekatan yang humanis, dosen memberikan teladan dalam perilaku, tutur kata, dan kedisiplinan. Kampus pun menciptakan lingkungan pendidikan yang islami, seperti:
- Kegiatan salat berjamaah di kampus.
- Kajian rutin Al-Qur’an dan hadis.
- Kelas pembinaan akhlak dan kepemimpinan.
- Gerakan literasi Islam dan sosial kemanusiaan.
Lingkungan yang kondusif ini membantu mahasiswa menjaga moral dan spiritualitas di tengah gempuran gaya hidup modern yang sering kali bertentangan dengan ajaran Islam.
5. Menghadirkan Teknologi Sebagai Mitra Pendidikan, Bukan Ancaman
Di era digital, generasi muda tidak bisa dilepaskan dari teknologi. Maka, alih-alih menghindarinya, pendidikan Islam perlu mengarahkan mahasiswa untuk menggunakan teknologi secara produktif dan bermoral.
Mahasiswa diajak untuk:
- Menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah dan edukasi.
- Menyaring informasi berdasarkan etika Islam.
- Mengembangkan konten positif yang mencerminkan nilai-nilai kebaikan.
Dengan bimbingan yang tepat, teknologi dapat menjadi alat penyebaran kebaikan, bukan penyebab kerusakan moral.
6. Membangun Keteladanan di Lingkungan Masyarakat
Pendidikan Islam tidak berhenti di ruang kelas. Mahasiswa Islam diharapkan menjadi teladan di tengah masyarakat — baik melalui ucapan, perilaku, maupun kontribusi nyata.
Melalui kegiatan pengabdian masyarakat, mahasiswa STITS dilatih untuk menerapkan ilmu agama dalam kehidupan sosial: mengajar anak-anak, berdakwah, serta membantu masyarakat desa. Dengan demikian, mereka bukan hanya “pembelajar”, tetapi juga “penggerak” perubahan moral.
7. Menghidupkan Kembali Semangat Spiritual di Kalangan Mahasiswa
Salah satu cara efektif menjaga moral adalah memperkuat spiritualitas. Kegiatan seperti salat berjamaah, dzikir, kajian tafsir, dan tahsin Al-Qur’an menjadi bagian dari rutinitas kampus.
Spiritualitas ini menjadi “rem” bagi mahasiswa agar tidak mudah terpengaruh oleh gaya hidup sekuler atau materialistik. Semakin dekat seseorang dengan Allah, semakin kokoh pula moral dan karakternya dalam menghadapi godaan zaman.
Kesimpulan
Tantangan moral generasi muda tidak bisa diatasi hanya dengan aturan, tetapi dengan pendidikan hati dan akhlak. Di tengah derasnya arus modernisasi, pendidikan Islam hadir sebagai solusi yang menyeimbangkan antara ilmu dan iman.
Melalui pendekatan spiritual, pembiasaan akhlak, dan bimbingan dosen yang teladan, STITS Syekh Saman Al Hasan terus berupaya mencetak generasi muda yang cerdas, tangguh, dan berakhlak mulia — generasi yang mampu membawa cahaya Islam dalam setiap aspek kehidupan.
Karena masa depan umat tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan otak, tetapi oleh kejernihan hati dan kekuatan moral generasinya.

Leave a Reply