Etika Bermedia Sosial Menurut Perspektif Islam

Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui platform seperti WhatsApp, Instagram, TikTok, dan X (Twitter), manusia dapat berkomunikasi, berbagi informasi, hingga berdakwah. Namun, di balik kemudahannya, media sosial juga menyimpan risiko besar jika tidak digunakan dengan bijak.

Sebagai mahasiswa Islam di lingkungan kampus seperti STITS Syekh Saman Al Hasan, penting untuk memahami bahwa Islam tidak pernah memisahkan adab dan etika, bahkan di dunia maya sekalipun. Setiap kata, gambar, dan komentar yang kita bagikan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ﷻ.


1. Islam Mengajarkan Adab dalam Segala Hal

Etika dalam Islam tidak hanya berlaku di dunia nyata, tetapi juga di dunia digital. Allah ﷻ berfirman:

“Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf [50]: 18)

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap postingan, komentar, dan pesan di media sosial akan tercatat. Oleh karena itu, seorang Muslim harus berhati-hati dalam bermedia sosial, memastikan setiap aktivitasnya membawa manfaat, bukan mudarat.


2. Menjaga Lisan Digital: Berpikir Sebelum Menulis

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam konteks media sosial, hadis ini dapat dimaknai: “Barang siapa beriman, hendaklah ia menulis yang baik atau tidak menulis sama sekali.”

Sebelum memposting sesuatu, tanyakan tiga hal pada diri sendiri:

  1. Apakah ini benar?
  2. Apakah ini bermanfaat?
  3. Apakah ini disampaikan dengan cara yang baik?

Jika jawabannya “tidak”, maka lebih baik menahan diri. Sebab satu kalimat yang salah bisa menyakiti hati orang lain atau menimbulkan fitnah besar di dunia maya.


3. Hindari Ghibah dan Fitnah Online

Media sosial sering kali menjadi tempat subur bagi ghibah (menggunjing) dan fitnah (menyebarkan kabar bohong). Padahal, keduanya termasuk dosa besar dalam Islam.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 12)

Mahasiswa Muslim harus menjadi teladan dengan tidak ikut menyebarkan gosip, berita yang belum jelas sumbernya, atau komentar negatif tentang orang lain. Jika tidak yakin terhadap kebenarannya, lebih baik diam dan memverifikasi terlebih dahulu.


4. Gunakan Media Sosial untuk Menyebarkan Kebaikan

Media sosial adalah sarana dakwah yang luar biasa jika digunakan dengan benar. Mahasiswa dapat menyebarkan kutipan Al-Qur’an, hadis, atau kisah inspiratif yang membangun semangat kebaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa menunjukkan jalan kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Maka, setiap unggahan yang mengingatkan orang untuk berbuat baik akan menjadi ladang pahala yang terus mengalir, bahkan setelah kita tidak lagi aktif di dunia maya.


5. Jaga Privasi dan Hindari Pamer Berlebihan

Islam mengajarkan tawadhu’ (rendah hati) dan melarang sifat riya (pamer). Namun, di media sosial, banyak orang tergoda untuk memamerkan kekayaan, prestasi, bahkan kehidupan pribadinya secara berlebihan.

Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim)

Mahasiswa sebaiknya berhati-hati dalam membagikan foto, status, atau cerita pribadi. Hindari menampilkan sesuatu yang dapat menimbulkan iri hati, kesombongan, atau membuka aib diri sendiri dan orang lain. Gunakan media sosial untuk inspirasi, bukan untuk eksistensi.


6. Bijak dalam Mengomentari dan Berdebat

Tidak jarang, perbedaan pendapat di media sosial berakhir dengan perdebatan panas. Dalam Islam, perbedaan adalah hal wajar, tetapi cara menyikapinya harus dengan adab.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Aku menjamin rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar.” (HR. Abu Dawud)

Jika ingin memberikan pendapat, sampaikan dengan sopan dan berlandaskan ilmu. Hindari kata-kata kasar atau sindiran yang menyinggung. Mahasiswa Islam harus menjadi contoh bahwa berdebat dengan adab lebih bernilai daripada menang dengan emosi.


7. Gunakan Waktu Bermedia Sosial Secara Produktif

Waktu adalah amanah, dan penggunaannya akan dimintai pertanggungjawaban. Terlalu lama berselancar di media sosial tanpa tujuan dapat mengurangi produktivitas dan semangat belajar.

Gunakan media sosial untuk hal-hal bermanfaat seperti belajar, berdakwah, mencari ilmu, atau menjalin silaturahmi dengan cara yang baik. Islam mengajarkan keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata.


8. Hindari Konten Negatif dan Jagalah Pandangan

Mahasiswa Islam juga harus berhati-hati terhadap konten yang tidak pantas — seperti kekerasan, kemaksiatan, atau hiburan yang melalaikan.

Allah ﷻ berfirman:

“Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka.” (QS. An-Nur [24]: 30)

Menjaga pandangan di dunia maya sama pentingnya dengan menjaga pandangan di dunia nyata. Setiap klik adalah pilihan yang menunjukkan seberapa kuat iman seseorang.


Kesimpulan

Etika bermedia sosial menurut Islam berakar pada prinsip akhlakul karimah — menjaga lisan, menyebarkan kebaikan, dan menjauhi keburukan. Mahasiswa di STITS Syekh Saman Al Hasan diharapkan menjadi teladan dalam penggunaan media sosial yang santun, beradab, dan berorientasi pada dakwah.

Media sosial hanyalah alat, tetapi bagaimana kita menggunakannya akan menentukan apakah ia menjadi jalan menuju pahala atau justru dosa. Jadikan setiap postingan sebagai cermin keimanan, karena jejak digital akan terus ada bahkan setelah kita tiada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *