Urgensi Akhlakul Karimah di Kalangan Mahasiswa Perguruan Tinggi Islam

Dalam pandangan Islam, akhlakul karimah atau budi pekerti yang mulia merupakan inti dari seluruh ajaran agama. Nabi Muhammad ﷺ diutus ke dunia tidak lain untuk menyempurnakan akhlak manusia. Di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, mahasiswa—khususnya di perguruan tinggi Islam—memiliki tanggung jawab besar untuk meneladani dan menjaga nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Makna Akhlakul Karimah dalam Kehidupan Mahasiswa

Akhlakul karimah bukan hanya sekadar sopan santun dalam bertutur kata atau berperilaku, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Mahasiswa yang berakhlak baik akan terlihat dari caranya bersikap terhadap dosen, sesama mahasiswa, dan masyarakat di sekitarnya.

Akhlak yang baik juga mencerminkan keimanan seseorang. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi). Dari hadits ini, jelas bahwa kualitas iman seseorang sangat erat kaitannya dengan perilaku dan etika yang dimilikinya.

Akhlakul Karimah sebagai Identitas Mahasiswa Islam

Mahasiswa di perguruan tinggi Islam bukan hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga unggul dalam moral dan spiritual. Dunia pendidikan tinggi adalah tempat pembentukan karakter, bukan sekadar pencapaian gelar.

Akhlakul karimah menjadi identitas yang membedakan mahasiswa kampus Islam dengan mahasiswa lainnya. Ketika seseorang berilmu tinggi namun tidak berakhlak baik, ilmunya bisa menjerumuskan diri dan orang lain. Sebaliknya, mahasiswa yang berilmu sekaligus berakhlak mulia akan membawa manfaat bagi masyarakat dan menjadi contoh yang baik di lingkungannya.

Tantangan Akhlak di Era Modern

Era digital membawa kemudahan luar biasa, namun juga tantangan moral yang semakin kompleks. Banyak mahasiswa yang terjebak dalam budaya konsumtif, hedonisme, serta perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Media sosial sering kali menjadi tempat di mana batas-batas sopan santun mulai luntur. Komentar kasar, saling menjatuhkan, hingga penyebaran informasi tanpa tabayyun (klarifikasi) menjadi hal yang lumrah. Dalam situasi ini, pendidikan Islam harus hadir untuk memperkuat pondasi akhlak mahasiswa agar tidak hanyut dalam arus negatif dunia maya.

Peran Perguruan Tinggi Islam dalam Pembinaan Akhlak

Kampus Islam seperti STITS Syekh Saman Al Hasan memiliki tanggung jawab besar dalam membina akhlak mahasiswanya. Melalui kegiatan keagamaan, bimbingan rohani, dan keteladanan dosen, kampus dapat menjadi tempat tumbuhnya karakter Islami.

Kegiatan seperti kajian rutin, mentoring keislaman, dan pengabdian masyarakat bisa menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah. Lebih dari itu, lingkungan kampus juga harus mendukung budaya saling menghormati, tolong-menolong, dan menegakkan kebenaran secara santun.

Meneladani Akhlak Nabi Muhammad ﷺ

Nabi Muhammad ﷺ adalah teladan sempurna dalam segala aspek kehidupan. Dalam urusan ibadah, beliau tekun dan ikhlas; dalam urusan sosial, beliau penuh kasih sayang dan adil. Mahasiswa harus menjadikan Rasulullah sebagai panutan dalam bersikap di kampus maupun di luar lingkungan akademik.

Dengan meneladani beliau, mahasiswa akan mampu menampilkan perilaku yang santun, rendah hati, dan berintegritas—nilai-nilai yang sangat dibutuhkan untuk membangun peradaban Islam yang maju dan berkeadaban.

Kesimpulan

Akhlakul karimah merupakan pondasi utama bagi mahasiswa perguruan tinggi Islam dalam menghadapi kehidupan modern. Ilmu tanpa akhlak hanya akan menjadi beban, sementara ilmu yang disertai akhlak akan membawa keberkahan.

Oleh karena itu, setiap mahasiswa STITS Syekh Saman Al Hasan hendaknya menjadikan akhlakul karimah sebagai pedoman dalam belajar, berinteraksi, dan berkarya. Dengan karakter yang kuat, generasi muda Islam akan mampu menjadi agen perubahan yang membawa cahaya kebaikan bagi masyarakat dan bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *